Kiamat 2012

Rabu, 17 Februari 2010

Hollywood kembali berkibar di layar perak Indonesia, film besutan sutradara Roland Emmerich, berjudul 2012 laris manis. Film bergenre fiksi ilmiah itu berhasil merebut minat masyarakat dengan menjual brand image kiamat. Tak hanya menuai rupiah dan dolar, film itu juga menuai protes agamawan di Malang. Termasuk bukunya juga tetap laris dibeli orang.

“How would the governments of our planet, prepare Six billion people, for the end of the world, they wouldn’t”

Petikan naskah diatas bisa dilihat dalam trailer 2012 yang bisa dilongok dan mudah ditemukan lewat google search. Itu membuktikan bahwa Hollywood benar-benar pandai memancing rasa ingin tahu khalayak untuk menonton 2012. Satu kata kunci ‘the end of the world’ alias kiamat, maka orang berduyun-duyun datang ke bioskop.

Sebenarnya sebelum sampai di bioskop, film 2012 telah dibuat heboh di dunia maya selama beberapa bulan terakhir. Di situs pertemanan facebook, mayoritas status selalu berisi resume atau pendapat tentang film tersebut. Tak ada yang tidak tahu kiamat, dan hal itu yang dimanfaatkan untuk promosi secara gratis.

Sekilas melihat trailer, dimulai gambar kaki bersandal Tibet berlari kecil menjejaki tanah pegunungan. Digambarkan begitu indah, akhirnya muncul siluet seorang biksu hendak menuju ke biara di puncak bukit. Nun jauh di seberang bukit, nampak menjulang puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest.

Pada bagian itu, lantas muncul sub title bertuliskan for the end of the world, diikuti munculnya gambar Everest. Secara dramatik tiba-tiba muncul bergunung-gunung air bah yang menerjang Himalaya. Makin membesar hingga menelan gunung tertinggi di dunia, finally turut meluluhlantakkan biara sang Biksu di awal trailer.

Pada bagian itu, muncullah kata-kata they wouldn’t, diikuti sebait judul bertuliskan 2012. diikuti anjuran agar penonton trailer menjelajah google bila ingin tahu tentang trailer yang dilihatnya.

Dari trailer memang nampak kemiripan gambar dengan The Day After Tommorrow maupun Independence Day. Betapa tidak, sutradara 2012 tak lain memang arsitek di balik megahnya animasi film-film yang menggambarkan hancurnya dunia.

Di Kota Malang, 2012 telah mendatangkan kehebohan sejak diputar di 21 Malang Town Square dan 21 Dieng Plaza. Di Matos, setiap hari sejak pemutaran perdana, tiket ludes terjual. Tiga jadwal pemutaran film di bioskop itu yang selalu penuh penonton, termasuk midnite yang mulai dimainkan pukul 23.
Demikian pula dengan buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Juga laris manis. Apalagi judul buku itu langsung menohok. Kiamat.

‘’Kalau mau melihat sore, lebih baik beli tiketnya pagi, kalau lihat malam beli siang atau sore,’’ aku salah satu penjaga tiket 21 Matos.

Perempuan cantik itu mengatakan, setiap hari antrian selalu memadati jadwal pemutaran film tersebut.
Malang Post melihat langsung riuh penonton sekitar pukul 20.30 minggu malam lalu. Pada saat itu, puluhan orang berjubel di depan 21 Matos, mereka bukan penonton.
‘’Itu yang tidak kebagian tiket mas,’’ imbuh sang penjual tiket.

Meskipun menangguk untung, 2012 akhirnya juga menuai protes keras dari Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Malang.

Film itu dianggap merusak akidah dan keyakinan umat Islam tentang kiamat. MUI bahkan berani melarang film itu diputar dan melarang masyarakat menontonnya.

‘’Meski seni kalau merusak akidah dan keyakinan, ya harus diluruskan,’’ tegas Ketua MUI Kabupaten Malang Mahmud Zubaidi.

Namun apa lacur, 2012 berhasil membius masyarakat Indonesia dan menghasilkan rupiah hingga bermilyar-milyar.

Dilansir dari salah satu media online, 2012 meraup keuntungan USD 225 juta (Rp 2 triliun). Keuntungan itu termasuk salah satunya disumbangkan penonton Indonesia. Perolehan itu disebut-sebut menjadi rekor, sedangkan di Amerika Serikat dan Kanada, film ini mendapat USD 65 (Rp 607 miliar).

Bagaimana dengan buku? Judul putih bertulis Kiamat, kemudian di bagian kiri berjajar dari atas bertulis 2012, di bagian tengah ada tulisan merah ‘investigasi akhir zaman’ dan pengarangnya Lawrence E Joseph, juga mulai diburu orang.

Di Gramedia contohnya. Buku itu ditempatkan di rak buku baru dan terlaris. Melihat tulisannya, orang langsung tertarik. Minimal untuk memegang dan membaca sekilas di sampul buku.

‘’Mungkin terpengaruh filmnya. Buku Kiamat 2012 juga terus dicari orang. Kalau jumlah pastinya, saya tidak tahu. Tapi sepertinya terus diburu,’’ kata salah seorang pramuniaga.
(bagus ary wicaksono/malangpost)

0 komentar: